Thursday, 19 March 2015

MauLanaku menjaga kehormatanku


Saat memiliki Adib aku adalah pengangguran, berhenti mengajar dan fokus merawat Adib, saat hamil Maulanapun lebih nganggur, ndlosor jaya! Kini saat Adib sudah mulai mandiri dan Maulana bisa diajak kompromi aku mulai beraktivitas kembali, setelah pejerjaan rumahku selesai, aku selalu menghabiskan waktu di kantor yayasan menemani bapaknya AdibLana menyelesaikan urusan yayasan, karna aku berada di devisi keagamaan jadi otomatis aku ikutan ngantor sambil ngemong 2 cowok gantengku, yihaaa, setelah selesai semua pekerjaan kantor, nongkrong tetap berlanjut entah itu sekedar ngopi, browsing, blogging :p atau menerima curhatan guru-guru :D 

Maulana tergolong anak yang sangat-sangaaaat diam, jaraaaang sekali menangis, sampai tetangga bilang kok di rumah ini ada anak bayi tapi jarang ada tangisan? Aku juga tidak menunggu Maulana haus untuk menetekinya, saat itu aku di kantor lalu Maulana merengek tanda haus, aku susui dia di kantor dan tentu saja karna aku berhijab, jilbab bisa berfungsi sebagai penutup saat menyusui, saat itu ada banyak orang seliweran, memang lagi sibuk-sibuknya persiapan acara di yayasan jadi aku memakluminya, namun ada yang mengganjal di hatiku, kok rasanya gak etis banget ya menyusui di depan banyak orang, meskipun itu dalam keadaan tertutup sempurna proses menyusuiku, hari berikutnya berulang seperti itu, hatiku was-was, tidak tenang, mengapa aku harus menyusui di depan orang banyak seperti ini?

Aku menyampaikan pada bapaknya AdibLana untuk tidak membiarkan orang lain masuk saat aku menyusui, namun bapaknya keberatan karna banyak sekali yang berkepentingan disitu, aku fikir iya juga sih, masak kita harus egois begitu -____- tidak berlangsung lama kegelisahanku ternyata dirasakan juga oleh Maulana, beberapa hari terakhir ada yang lain dengan Maulana, ketika berada di luar rumah dia menangis, seperti tidak suka, tidak puas dan entah, aku berfikir dia haus, lapar atau ingin dipeluk di kamar seperti biasanya, aku menyusuinya sambil menyelesaikan tugasku di kantor, dia tetap menolak, menjerit, biasanya dimanapun tempatnya dia begitu tenang dan tidak menangis, lalu aku memutuskan meninggalkan kantor dan menyusui Maulana di kamarnya (jarak kantor dan rumah sekitar 15 meter :D ) laaah, kok dia diem, tenang, menyusu dengan lahap, damai, tertidur, puleeeees banget, besoknya begitu lagi, waktu kami keluar rumah untuk bersilaturrahmi dengan keluarga dia gak tenang, nangis jerit-jerit, waduh ini di rumah sodara nangis histeris behini, aku susui dia di ruang tamu; gak mau! Walhasil buru-buru pinjem kamar neng jidah untuk menyusui Maulana baru dia mau mimik, dan kejadian yang sama saat belanja, maunya menyusu saat udah masuk mobil yang gak ada orang lain kecuali bapaknya, maknya dan masnya, ohhh Allaaah ternyata ini yang dia rasakan, Maulanaku, cintaku, membantuku untuk lebih muru'ah, mungkin dia keberatan kalau ibunya mengekuarkan anggota badan di depan orang asing atau orang lain selain keluarga intinya, terima kasih sayangku, mungkin ini akan lebih merepotkan aku, tapi ini tantangan seru, semoga di setiap mall, di setiap tempat hiburan, tempat umum, sadar untuk disediakan ruang menyusui.. 

Disitu kadang saya merasa sedih kalau ada ibu-ibu yang menyusui di depan banyak orang tanpa ditutupi :'( meskipun ASI adalah yang terbaik, gentongnya bisa dibawa kemana-mana, tidak mudah basi dan tinggal lep tinggal lep tapi gak harus jadi konsumsi umum kan? :'( ayoo ibu-ibuu pejuang ASI, tetep ngASI dan tetep santun menyusui :)

0 comments:

Post a Comment

Monggo Pesan dan Kesannya